Featured
Posted in Keuangan Keluarga

Sebuah Catatan: Financial Planning Seminar

Kitalah yang mengendalikan uang, bukan kita yang dikendalikan uang

Pada sebuah seminar, saya dipertemukan dengan seorang pakar keuangan yang sudah memiliki pengalaman bekerja di Bank Indonesia dan mengisi berbagai seminar mengenai perencanaan keuangan, yakni Ibu Elsa Fabiola Aryanti. Beliau menyampaikan bahwa keuangan keluarga adalah salah satu faktor penting yang perlu untuk kita pedulikan. Peduli pada keuangan sendiri adalah kunci awal pengendalian keuangan keluarga.

Peduli pada keuangan sendiri dapat dilakukan dengan cara:

  1. Hitung Aset Keluarga
    Pernahkah kita peduli dengan apa yang telah Allah Subhanahu Wata’ala titipkan pada kita dengan mencatat apa saja titipan itu dan berapa nilainya? Terkadang kita merasa bahwa kita kekurangan atau bahkan merasa kelebihan harta, namun ternyata setelah dicatat dan dihitung ternyata tidak sesuai dengan apa yang dirasa. Untuk meminimalisir kegagalan dalam perencanaan keuangan maka menghitung aset keluarga adalah jalan pertama yang bisa kita mulai. Aset itu dapat berupa kendaraan yang dimiliki, jumlah kamar yang dikontrakkan, rumah yang dimiliki, tabungan, deposito, dll. Tuliskan dan hitung jumlahnya.
  2. Hitung Hutang Keluarga
    Di zaman yang serba mudah ini, mengambil cicilan menjadi suatu hal yang biasa. Kredit bank, pinjaman online, kartu kredit, maupun jenis hutang lainnya perlu untuk benar-benar diperhatikan, Catat dan hitung semua hutang yang anda miliki. Misalnya: Anda sudah memiliki rumah, namun masih dalam masa cicilan ke bank. Maka tuliskan berapa cicilan anda perbulan ke bank, berapa bunganya, berapa pokoknya, dan berapa jangka waktu pembayarannya. Begitupun jika anda memiliki pinjaman uang untuk modal usaha, maka tuliskan. Dengan menghitung hutang maka kita akan menyadari kekuatan atau kelemahan keuangan keluarga. Apakah jumlah hutang lebih besar dari jumlah aset? atau justru aset lebih besar nilainya dari pada hutang? atau seimbang?
  3. Buat Catatan Keuangan Keluarga
    Catatan keuangan mencakup segala pengeluaran keuangan sehari-hari, semakin detail maka akan semakin baik. Tentu kita tahu bahwa harta akan dihisab (dihitung) pada hari akhir nanti. Penghitungan tersebut berkaitan dengan dua pertanyaan, yakni dari mana didapatkan? dan ke mana dibelanjakan?. Ummu tentu sadar kan bahwa salah satu tugas utama seorang istri adalah menjaga harta yang dititipkan. Kita akan bertanggung jawab kelak di akhirat tenang dari mana harta didapat dan ke mana harta itu telah digunakan. Dengan mencatat detail keuangan keluarga kita juga bisa melihat kebutuhan apa saja yang paling banyak menguras uang, kemudian kita juga bisa melihat di kemudian hari mana saja pengeluaran yang bisa dan tidak bisa ditekan. Bukankah menjadi lebih mudah bagi Ummu semua untuk mengambil keputusan saat harus menentukan bagaimana caranya bisa mengelola keuangan?
  4. Segera rencanakan keuangan
    Perencanaan keuangan penting untuk dibahas sebab hal ini dapat menentukan kesejahteraan keluarga di masa pensiun tulang punggung keluarga, maka usahakanlah untuk tidak menunda merencanakan keuangan. Pada awal masa pernikahan, sebelum fokus ummu dan abba terbagi pada kebutuhan pendidikan anak, dan kebutuhan lainnya mulailah buat perencanaan keuangan. Perencanaan ini dapat menyelamatkan keluarga di saat masa pensiun suami terjadi. Pensiun siap, pensiun sejahtera. Mulai tentukan rencana apa yang ingin dicapai nanti? apakah punya kos-kosan dengan jumlah 15 kamar? punya bisnis makanan? punya dua rumah untuk dikontrakan? dsb.

Keuangan Sehat dapat dikontrol dengan menggunakan metode Financial Check Up, yakni:

  1. Cegah keuangan yang kuang bijak,
  2. Waspadai pengambilan kredit,
  3. Waspadai investasi bodong.

Setiap keputusan yang akan diambil haruslah mengarah pada keuangan sehat. Jangan mudah percaya pada tawaran-tawaran menggiurkan dari bank atau penyedia jasa pinjaman sebab bagi mereka meminjamkan uang adalah sebuah bisnis yang menguntungkan (tentu mereka tidak akan mau rugi), jangan sampai kita tergiur dengan penawaran tanpa melihat resiko dan kemampuan finasial kita. Oleh karena itu, gunakanlah selalu prinsip Check & Re-Check. Cek berapa bunga yang ditawarkan, apa keuntungan yang didapatkan, apa kerugian yang akan kita hadapi, apa resiko yang mungkin terjadi, berapa lama masa pencicilan, berapa lama investasi itu akan berjalan, dan pertanyaan lainnya. Bila perlu cari orang yang memang sudah berpengalaman di bidang investasi maupun bidang pengkreditan. Dengan demikian kita akan menambah wawasan ( untuk menentukan akan mengambil atau tidak) dan siap menghadapi resikonya bila mengambil kredit atau ikut berinvestasi.

Gunakan prinsip Check & Re-Check

bersambung …

Sebuah Catatan: Financial Planning Seminar (2)

Posted in Uncategorized

Do Your Best

Berbicara tentang hijrah, maka saya teringat akan bagaimana kisah perjalanan Rasulullah hijrah dari Kota Mekkah ke Kota Madinah. Kota Mekkah yang merupakan kota kelahiran beliau sudah tidak kondusif lagi untuk ditinggali, mengingat ancaman dan perlawanan dari para kafir Quraisy yang semakin terang-terangan. Nabi Muhammad dan beberapa umat muslim pada saat itu pun memutuskan untuk segera berhijrah, berpindah tempat.

Kemudian saya merenungi kisah tersebut. Ketika kita berada di dalam suatu masyarakat atau lingkungan maka kita berhak untuk memilih tetap tinggal atau pergi meninggalkannya. Satu hal yang jadi landasannya adalah ketika kita berbuat baik, menasehati kebaikan, menebarkan dan menegakkan agama Allah lalu mendapat penolakan dan ancaman maka kita boleh meninggalkannya.

Artinya apa? Artinya setiap kita berbuat baik tidak selalu mendapat balasan kebaikan secara langsung. Misal A memberi makanan untuk B, maka tidak ada jaminan bahwa B akan membalas langsung kebaikan A. Bahkan bisa jadi B malah mencaci maki, melempar pemberian A, atau bahkan bisa saja malah jadi mengancam keselamatan A. Oleh karena itu, benarlah jika niat kita memberi hanyalah meminta balasan dari Allah. Pun ketika kita tidak bisa memberi, maka kita doakan semoga yang meminta mendapat pemberian dari Allah.

Koleksi Pribadi @dailyummubia

PERLUKAH KITA MEMBANDING-BANDINGKAN DIRI?

Kita telah berbuat baik, lalu apakah perlu kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain? Tidak perlu. Sebab membandingkan diri sendiri dengan orang lain, bisa merusak semangat kita dalam berbuat baik. Padahal Allah telah menegaskan bahwa saat kita berbuat baik sekecil apapun itu pasti akan ada balasan kebaikan.

Kalaupun kita hendak membandingkan diri sendiri, akan lebih adil jika kita bandingkan diri ini dengan diri sendiri di hari kemarin.

Tanyakan pada diri sendiri:

1. Sudah melakukan kebaikan apa saja hari ini?

2. Sudah lebih baikkah dari hari kemarin?

3. Jika belum, maka apa yang perlu diperbaiki.

4. Jika sudah, maka kuatkanlah diri agar hari ini siap untuk menampilkan kebaikan yg lebih baik dari hari sebelumnya.

Kerugian dari membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain dapat menimbulkan dua keburukan:

1. Hilangnya Rasa Syukur

Ketika kita membandingkan diri dengan orang lain, lalu ternyata orang lain terlihat lebih baik dari diri kita bukan tidak mungkin yang muncul adalah sifat kufur nikmat. Merasa diri ini penuh dengan kekurangan, tidak percaya diri, lalu muncul kebiasaan mengeluh.

Padahal, bisa jadi apa yang kita lihat belum tentu sama dengan apa yang sedang mereka jalankan. Mungkin yang kita lihat adalah puncak gunung rinjadi yang indahnya saja, padahal ada banyak jurang, bebatuan, pasir, tanah yang licin serta udara panas dan dingin yang telah mereka lalui untuk bisa meraih keindahan puncak Rinjani itu.

Bersyukurlah, maka dengan bersyukur hati menjadi tentram. Pikiran tenang. Rasa cukup itu akan membawa kita pada semangat untuk terus belajar, bekerja, dan berusaha menampilkan yang terbaik. Bukankah Allah telah memberikan kita kelebihan dan kekurangan? Maka fokuslah pada kelebihan diri sendiri, cari solusi untuk menutupi kekurangan dengan cara yang baik dan benar. Serta percaya diri bahwa apa yang sedang kita lakukan hari ini suatu saat nanti akan membuahkan hasil yang luar biasa besarnya. Melebihi kehebatan yang kita lihat hari ini.

2. Munculnya sifat sombong

Saat kita membandingkan diri dengan orang lain, lalu ternyata orang lain tak seberuntung atau sebaik kita, maka yang dikhawatirkan munculnya sifat sombong. Mudah merendahkan orang lain. Na’udzubillah, jangan sampai kita menjadi sombong. Merasa diri paling bisa. Merasa bisa karena ini dan itu. Padahal dibalik semua kesuksesan yang telah diraih itu semua atas seizin Allah. Semua itu hanyalah pemberian dari Allah.

Pesan Untuk Yang Sedang Berhijrah!

Jika kamu saat ini sedang berhijrah, lalu merasa putus asa. Maka kembalilah merenungkan diri. Berdialog dengan diri sendiri. Apa tujuan kamu berhijrah? Benarkan jika tujuan kita berhijrah adalah untuk meraih kebaikan dan kecintaan Allah terhadap kita?

Jangan sampai niat berhijrah karena ingin lebih baik dari orang lain. Karena ingin terlihat hebat di mata orang lain.

Sebab, jika memang demikian, maka langkah hijrah mu bisa terhenti karena tatapan dan omongan merendahkan dari orang lain.

Teguhkanlah hatimu. Kuatkan jiwa dan ragamu. Hijrah dari suatu tempat ke tempat yang lain adalah untuk menambah nya kebaikan. Hijrah dari keburukan kepada kebaikan bukan hal yang mudah. Sebab Allah telah mengingatkan kita bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah, maka ia akan diuji.

Sabar dan bertawakallah dalam menjalani ujian mu hari ini. Semoga Allah mudahkan segala urusan baik kita. Semoga pula Allah lindungi kita dan menghindarkan kita dari segala keburukan, baik yang kecil maupun yang besar.

Bukan sekedar tentang menjadi siapa kita hari ini, tetapi tentang kebaikan apa yang telah kita tebar hari ini.

@dailyummubia

Patahkan stigma dalam diri kita dengan kebaikan yang banyak kita tebar hari ini.

Jangan pernah menyerah untuk berhijrah, karena saat itulah kamu mungkin kehilangan arah. Namun, saat kamu memilih untuk meneruskan hijrah maka bukan tidak mungkin akan ada banyak kebaikan yang muncul dalam diri, menjadikanmu bersinar dan mendapatkan kasih sayang Allah.

Bahkan setelah Nabi Muhammad dan Umat muslim saat itu berhasil berhijrah, bukan berarti hidup menjadi tanpa masalah. Namun, masalah yang semakin kompleks dan besar sekalipun dapat dihadapi dan diselesaikannya tanpa ada keraguan.

Jadi, semangat terus yaa untuk berbuat baik. Meski hanya sekedar memberikan senyuman saat berjumpa orang lain. Sebab senyuman adalah sedekah yang paling murah, meski tidak mudah (bagi sebagian orang).

Oh iya, dari kisah berhijrah ini saya pun belajar bahwa tidak ada salahnya jika lingkungan kita saat ini mengancam keselamatan iman dan raga kita, tentu boleh berpindah tempat ke lingkungan yang menerima kita dan membawa energi positif terhadap kita.

Posted in Liburan, Uncategorized

Rekomendasi Tempat Makan Keluarga di Garut

Bismillah,

Apa kabar teman Ummu Bia, semoga senantiasa diberikan kesehatan dan rizki yang melimpah berkah.

Kali ini, saya mau cerita tentang pengalaman liburan sejenak di Kota Intan, yaitu Kota Garut. Garut menjadi salah satu kota pilihan untuk liburan bersama keluarga terutama buat kamu yang tinggal di daerah sekitaran Bandung. Area wisata unggulannya adalah kolam berendam air panas.

Daerah Cipanas Garut terkenal sebagai tujuan wisata keluarga yang menyenangkan. Di sana terdapat banyak pilihan kolam berendam dari yang murah sampai yang ekslusif, dari yang umum sampai yang privat. Tinggal sesuaikan dengan budget yang disiapkan.

Nah, pada tulisan kali ini saya tidak akan secara lanjut bercerita tentang area wisatanya, namun saya mau bercerita tentang pengalaman mencari tempat makan yang nyaman dan enak buat bawa keluarga. Saya dan suami memilih menginap di Cipanas Garut, agar lokasinya dekat ke kota. Hal tersebut akan memudahkan kami dalam mencari makanan di kota. Saya dan suami memang senang mengajak anak-anak makan di tempat makan yang nyaman dan rasanya pun enak.

Berhubung liburan kali ini termasuk mendadak, maka kami pun mengandalkan rekomendasi tempat makan di google. Ketika mencari rekomendasi tempat makan di Garut, maka muncul beberapa blog yang berbicara tentang 10 tempat makan yang layak buat dikunjungi. Saya pun memilih dua tempat, yakni bakso mulang sari dan reverdose.

Bakso kami kunjungi di siang hari, sebelum check-in ke hotel. Rasanya memang enak, harga juga terjangkau. Anak-anak suka dengan mie yaminnya. Saya pesan mie yamin bakso pisah, suami pesan baksonya saja, dan Bia saya pesankan Mie Yamin 1/2 porsi. Alhamdulillah semuanya habis tak bersisa.

Yang berkesan dari Bakso Mulang Sari ini adalah Jus Sirsak dan Jus Alpukatnya yang rasanya mantap. Kerasa banget buahnya, bukan abal-abal. Sayangnya saya tidak mengambil foto di sana, saking asiknya makan.

Nah, untuk Reverdose Kafe saya rencanakan untuk dikunjungi saat makan malam. Namun, sayang sekali. Tempat ini kurang cocok untuk bawa keluarga. Terkesan seperti pub, live musicnya keras, lokasinya pun ada di dalam Mall kecil. Yang parkirannya pun kurang nyaman. Akhirnya kami balik lagi dan tidak jadi makan di sini.

Untunglah sepanjang jalan kami melihat beberapa tempat makan yang ramai. Ini jadi salah satu cara andalan kami dalam memilih tempat makan tanpa rekomendasi dari siapapun. Asumsi kami: Jika tempat makan ramai dikunjungi berarti banyak orang makan di situ, berarti makanannya pun enak.

Tempat makan pilihan kami pun jatuh pada:

Buku Menu Nazumi
Sumber: dokumentasi pribadi

Nazumi Japanese Resto.

Makanan di sini termasuk enak. Yang paling sering dipesan adalah ramennya. Karena kami sudah makan mie di hari itu, maka kami pun memilih menu nasi. Sushi dan rice bowl jadi pilihan kami.

Yang paling penting dan melegakan adalah ada logo halalnya. Harganya juga relatif murah kisaran 20-30an ribu per menunya.

Keunggulan lainnya adalah tempat yang luas dengan beragam pilihan tempat duduk. Ada yang lesehan dan ada juga yang pakai kursi makan. Ada yang privat, ada juga yang dekat dengan kolam ikan dan arena bermain anak.

Yups, arena bermain anak ini jadi satu poin plus bagi kami untuk Nazumi resto ini. Karena ketika anak bosan, dia bisa main di playground.

Jangan khawatir kerepotan saat bawa bayi, sebab di sini juga sudah ada kursi bayi. Ada yang lesehan dan ada juga yang kursi tinggi.

Pelayannya pun ramah, sabar menjelaskan menu yang kami tanyakan. Oh ya, kita juga bisa loh pake kostum ala-ala Jepang 🤭 Pakai kimono dan foto-foto di area resto. Jadi berasa banget yaa kaya lagi di Jepang.

Nazumi Resto ini ada di Jl. Cimanuk No.309, Sukagalih, Kec. Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44151. Deket kok kalau kita nginep di daerah Tarogong.

Nazumi Japanese Resto ini jadi salah satu tempat makan rekomendasi kami saat ada di Garut. Selain Nazumi tentu ada tempat makan lainnya yakni RM Sugema di Jl. Suherman, Tarogong, Kec. Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat 44151.

Berbeda dengan Nazumi, RM Sugema ini menyajikan menu khas Sunda. Tentu dengan rasa yang enak dan harga yang relatif terjangkau. Tak semahal Cibiuk Resto tentunya.

Menu andalan kami di sana adalah sop iga dan ikan goreng/bakarnya. Hemmm… Layak untuk dicoba ya 💕…

Sekian tulisan kali ini. Semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan komentar tanpa link hidup kalian di bawah yaaa. Semoga bermanfaat.

Posted in Keuangan Keluarga, Uncategorized

Jualan paling mudah, cocok buat pemula!

Bismillah,

Kali ini, saya mau berbagi cerita tentang pengalaman berbisnis. Bisnis atau jualan jadi salah satu aktifitas penghibur bagi saya yang full time ibu rumah tangga. Ketika ada waktu luang biasanya saya posting di status WA barang-barang yang bisa saya jual secara dropshipper. Keuntungannya memang tak seberapa, akan tetapi ketika saya konsisten mengiklankan barang maka semakin banyak konsumen yang berdatangan.

Hiburannya di mana? Tentu ketika ada konsumen yang order dan dia merasa terbantu dengan dagangan kita.

Terbantu; menjadi satu kata kunci kebahagiaan dari berbisnis. Saya baru menyadari bahwa dari berdagang ini ada banyak manfaat yang kita bagikan untuk orang lain. Saat kita menemukan barang yang bagus, lalu orang lain membeli dari kita barang bagus itu maka kita telah memberikan kemudahan kepada pembeli.

Salah satu produk bagus yang laris manis, terutama di kalangan ibu-ibu, yakni daster.

Daster MZ @ummubia.store

Modal 57.500 kamu sudah bisa mulai berjualan. Bahkan, kalau kamu mau bisa bergabung dengan grup reseller tanpa modal. Langsung join, tinggal posting deh barang dagangan yg ada di grup. Simple banget! Foto tinggal upload, teks keterangan produk tinggal copy paste.

Jualan dg cara ini sangat cocok buat kamu yang punya hoby posting status di WA, FB, IG, ataupun medsos lainnya. Gak perlu repot mikirin packing barang saat ada yang order. Barang dapat dikirim langsung oleh supplier bahkan daster yang ada di foto itu dikirim langsung oleh produsen looh. Produsen, supplier sudah ada di tempat yang sama. Produknya juga termasuk yang premium. Jahitan rapi, bahan terbaik. Gak akan salah deh ikutan jualan daster ini.

Daster Renda Lengan Panjang 85.000 @ummubia.store
On Model Daster MZ Lengan Pendek – Dokumentasi Pribadi
Siap kirim – Dokumentasi Pribadi
Logo Ummu Bia Store

Udah gak usah kebanyakan mikir. Kalau kamu mau lebih produktif, nambah penghasilan, tapi belum tau mulai dari mana. Bisa tanyakan langsung ke admin yaa

Posted in Parenting, Uncategorized

Titipan (2)

Orang hebat seringkali membawa pengaruh besar dan selalu memberikan suatu pembelajaran bagi banyak orang. Masih tentang hikmah dibalik kejadian tenggelamnya A Eril (anak sulung Gubernur Jawa Barat, Kang Emil).

Screenshots IG Story ridwansyahyusuf

Siang tadi saya melihat status whatsapp teman, kemudian saya screenshot dan reshare status tersebut di WA dan IG. Rasanya saya amat perlu menyimpan dan membagikannya agar lebih banyak lagi orang yang membaca status itu. Kalaupun tidak menjadi lebih banyak yang baca, saya ingin menyimpannya sebagai pembelajaran hidup. Begini isinya:

Jadi ya Cup, pelajaran buat kita para orang tua.

Anak itu titipan Allah. Tugas kita sebagai orang tua adalah memelihara, menjaga, mendidiknya dengan sebaik-baiknya.

Setiap orang akan mengalami apa yang aku alami. Ditinggalkan atau meninggalkan anak kita. Tinggal yang membedakan adalah dimensi waktu dan caranya saja.

Ada yang dengan persiapan dulu (seperti sakit) atau yang mendadak seperti ini.

Apapun itu, kita harus siap mengikhlaskan

@ridwankamil, Bern 2022

Seringkali sebagai orang tua, saya merasa bahwa “Ini anak saya, ya terserah saya dong mau dididik atau dibentuk seperti apa“. Namun, setelah membaca status tersebut saya sadar bahwa anak adalah titipan. Tugas saya sebagai orang tua adalah memeliharanya, menjaganya, dan mendidiknya hingga sampai waktunya tiba ia akan dikembalikan kepada Yang Maha Memiliki. Pemeliharaan, penjagaan, dan pendidikan terbaik perlu diberikan agar kelak ketika waktu itu tiba anak itu dijemput dalam keadaan terbaik kapan pun itu semoga pula di waktu terbaik.

Seperti halnya Kang Emil yang telah tuntas memelihara, menjaga, dan mendidik dengan sebaik-baiknya, seperti itu pula lah anak itu dijemput hingga banyak sekali orang yang ikut mendoakan. Ikut mengantar penjemputannya. Bahkan ia diambil dengan cara terbaik yang mana itu termasuk pada syahid dunia.

Wallahu ‘alam. Semoga anak-anak kita pun diri kita dijemput dengan sebaik-baiknya penjemputan. Diantar dengan sebanyak-banyaknya doa kebaikan. Dan ditempatkan pada sebaik-baiknya tempat.

Posted in Uncategorized

Titipan

Sejatinya tidak ada yang abadi. Dari kejadian hilangnya putra sulung Bapak Gubernur Jabar kami tercinta, Emmiril Khan Mumtadz, kita disadarkan kembali tentang ketidakabadian dunia. Siapa yang menyangka bahwa kedatangannya ke Kota Bern bukan menjadi awal ia melanjutkan studi S2 malah menjadi akhir kehidupannya di dunia. Siapa yang menyangka bahwa anak yang dicinta ternyata pergi dijemput ajalnya tanpa tahu di mana jasadnya berada. Sejatinya anak adalah titipan, Allah adalah pemilik sebenarnya.

Jika saja tidak ada keimanan tersebut dalam hati, maka orang tua mana pun akan berlarut dalam kepedihan karena kehilangan anak dengan cara yang sungguh tragis. Tapi bagi orang tua yang tegar hatinya, kuat imannya ia sanggup mengambil keputusan dan melaksanakan segala upaya terbaik untuk anaknya.

Semoga kita senantiasa menjadi orang tua yang bijak. Bijak dalam mendidik dan membersamai anak. Serta bijak dalam bersikap. Tidak ada pengandaian bagi orang tua yang tabah. Ia menerima dan melakukan yang seharusnya dilakukan.

Maka di situlah pentingnya menjadi manusia beriman dan berilmu.

Posted in Uncategorized

Perempuan Berdaya Berkarya

Tiga tahun sudah saya menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan berprofesi Ibu Rumah Tangga. Dari mulai belum memiliki anak, hingga sah melahirkan dua anak perempuan saya hanya berkutat pada dunia rumah tangga. Segala pencapaian yang telah saya raih sebelum menikah telah saya lepaskan agar rumah tangga ini dapat terus dipertahankan. Kini saya tengah berada pada fase rumah tangga ini perlu untuk lebih dihidupkan. Lalu, saya pun merenung dan berpikir hingga berdiskusi dengan pasangan dan berdialog dengan yang Maha Memiliki Kehidupan tentang bagaimana dan langkah apa yang perlu saya ambil agar kehidupan ini lebih bermakna, lebih bernilai. Hingga sampailah pada satu titik yang mempertemukan jawaban atas pertanyaan akan seperti apa saya menghidupkan rumah tangga ini.

Sebagai perempuan yang “tidak biasa” saya memiliki satu image yang melekat dan sulit untuk dilepaskan, meski saya sendiri mampu memilih untuk bersikap ‘bodo amat’ namun hal tersebut tidak bisa terus saya biarkan. Saya masih punya ‘utang’. Hutang itu perlu dibayarkan. Pengabdian kepada masyarakat adalah satu poin utama dari melunasi hutang. Saya yang seorang perempuan lulusan S2, produk dari beasiswa ternama tidak bisa hanya menjadi perempuan biasa saja. Saya perlu berdaya, bahkan perlu berbagi daya. Hingga pada titik ini pasangan hidup saya membuka mata saya dengan perkataannya: “bisa jadi lewat tulisan yang kamu buat adalah bentuk sedekah yang bisa kamu tunaikan”.


Bisa jadi dari tulisan yang telah kita bagikan menambah energi pada kehidupan orang lain.
Dari perkataan itu, saya telah berhasil keluar dari masa pencarian diri saya. Saya menilai bahwa kini saya telah menemukan arah. Tidak apa-apa jika cita-cita saya menjadi seorang dosen tidak tercapai yang penting saya masih bisa menebar manfaat melebihi luasnya kebermanfaatan yang dibagikan oleh seorang dosen. Tak mengapa, bahkan saya yakin bisa meraih rezeki melebihi gaji profesi dosen di usia saya ini.
Masa pencarian itu menyeruakkan pertanyaan: “apa bedanya kamu dengan yang hanya lulusan SMP, kalau cuma jadi IRT?” “Apa bedanya kamu dg ibu lulusan SMA yang sekarang mungkin penghasilnnya jauuuuh lebih besar dari kamu yang lulus S2?” Beda. Saya waktu itu hanya bisa berkata: “beda”, tanpa mampu menjelaskan apa bedanya. Entah dari cara mendidik anak, membentuk kebiasaan, ataupun yang lainnya. Bukankah kebahagiaan dan rezeki itu tidak memululu soal uang?

Kini saya tahu salah satu yang akan membedakan diri saya dengan orang lain adalah melalui tulisan. Semua orang bisa menulis, tapi tidak semua orang punya pola pikir yang sama. Niat berjumpa jalan, saya menemukan sebuah komunitas positif yang mendukung kebiasaan menulis di blog, yaitu komunitas IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis). Bersama IIDN, saya memulai semangat ini, saya menemukan circle yang mendukung diri saya untuk mampu terus berdaya. Mampu untuk terus berkarya.

Saya ingin terus menulis dengan ketulusan, maka ia akan melahirkan kedalaman makna. Menulis itu adalah suatu karya yang tidak bisa hanya sekedar dinilai dari materi, lebih dari itu melalui tulisan kita dapat memberi pengetahuan baru pada orang yang membaca, memberi pencerahan baru atau ide baru bahkan semangat baru yang mungkin dari situ kita telah menyelamatkan satu titik kehidupan orang lain.

Maka dari itu, saya bertekad untuk lebih sering lagi menulis dan membagikan tulisan saya kepada siapapun. Saya kini telah siap dengan segala resiko dan respons yang ada di depan. Awalnya saya sering merasa takut dan tidak percaya diri dengan tulisan saya. Saya takut dengan penilaian dari orang lain. Ketakutan tersebut justru membuat saya berhenti berkarya, berhenti melangkah. Semoga dengan ikut sertanya saya dalam komunitas IIDN, saya mampu untuk terus berdaya. Sebab menjadi perempuan itu haruslah berdaya, dengan demikian akan tercipta kehidupan yang lebih bahagia.

Bagaimana caranya berdaya dari menulis?

  1. Dari menulis kita mendapatkan satu kebiasaan baik yang mampu menambah kesehatan pikiran dan kestabilan emosi kita.
  2. Dari menulis, kita bisa memberikan informasi atau pengetahuan baru terhadap pembaca tulisan kita.
  3. Dari menulis, bahkan kita bisa dapat tambahan pundi-pundi rupiah.
  4. Dengan menulis, pola berpikir dan daya ingat kita pun akan semakin baik, bahkan semakin haus akan ilmu dan hal-hal baru.

Yuk, jadi perempuan yang semakin berdaya dengan menulis bersama IIDN.

komunitas perempuan #komunitas menulis #komunitas penulis

Posted in Parenting

Menjadi Ibu (dua anak)

Sudah lebih dari tiga hari anak-anak sakit. Dimulai dari Teteh Bia yang muntah pulang dari rumah Uu, sampai muncul demam dan batuk pilek. Hingga berujung pada Agnia yang ikutan demam di hari ke-3 Teteh sakit. Yang paling berat dalam kondisi anak sakit adalah ketika malam tiba. Saat tubuh rasanya ingin beristirahat tetapi tidak bisa. Teteh tidur, De Agni bangun. Mending kalau hanya sekedar bangun, masalahnya menjadi sangat menguras emosi dan tenaga ketika yang bangun menangis. Tangisan anak-anakku cukup kenceng 😅 jadi satu nangis bisa bangunin satunya lagi.

Saat sakit rewelnya mulai muncul, padahal sebelumnya Agnia termasuk bayi yang anteng. Tidur selalu sebelum jam 10, abis itu anteng sampe subuh. Mimi kalau dibangunkan aja, itu pun dia sambil tidur. Saat sakit, boro-boro anteng 😂 yang ada inginnya digendong terus, nangis kalau ditidurin di kasur.

Teteh Bia saat tidak sakit saja sering kebangun tengah malam. Ngelindur marah-marah, nangis, minta makan, minta susu, dll. Sekarang saat sakit ditambah liat adiknya juga sakit digendong terus, Teteh jadi selalu minta digendong 😅.

Alhamdulillah mertua mau nginep di rumah, hari kedua dan ketiga ada yang back up. Sementara di hari-hari berikutnya berjuang sendiri, suami ke mana? Suami ikutan sakit, minum obat batuk auto tidur nyenyak 😂. Saat tengah malam Teteh dan Agnia bangun minta digendong, saya harus siap gendong dua-duanya.

Gendongan yang paling nyaman saya pakai adalah tipe gendongan yang tinggal slup, gak pake ribet narik-narik belt atau kain buat ngepasin. Maka dari itu saya menyediakan dua size gendongan satu M dan satu L. Ketika Teteh minta digendong, maka saya biasanya gendong teteh dulu dibelakang pakai gendongan yg size M, setelah itu baru gendong adiknya di depan pakai size L.

Balik lagi ke topik awal, menjadi ibu dua anak ternyata memiliki tantangan yang luar biasa. Yang dihadapi adalah anak-anak dan diri sendiri. Saya sempat beberapa kali tidak mampu mengontrol emosi, sampai marah-marah ke anak. Alhasil anakku juga jadi lebih pemarah. Saya juga sering menyerah dan membiarkan anakku menonton TV. Padahal sejak awal saya memiliki anak pertama, saya bertekad untuk tidak memberikan gadget berlebihan.

Barangkali ada uma atau bunda yang punya pengalaman mengasuh dua anak tanpa helper (baby sitter, ART). Gimana cara bagi waktunya antara beberes rumah, masak, didik anak, dan ngajak main anak. Kalau ada tolong kasih tau doong lewat kolom komentar yaa biar bisa dibaca ibu-ibu lainnya juga.

Posted in Curahan Hati

Risau

Saat menulis tulisan ini, saya belum menentukan judul. Saya ingin menuangkan isi kepala yang sedari tadi ingin diluapkan. Setelah tiga tahun menikah, saya mulai menemukan titik jenuh. Saya rindu berkarya, rindu berkutat dengan tulis menulis akademis. Tujuan awal saya melanjutkan studi S2 adalah ingin menjadi seorang dosen. Namun, takdir berkata lain. Lulus S2 saya memilih untuk menikah, setelah menikah suami lebih mendukung saya untuk menjadi ibu rumah tangga.

Alhamdulillah selama tiga tahun menjelang empat tahun ini dari segi duniawi tercukupi. Rumah, kendaraan, dan anak sudah ada. Hanya saja masih ada satu ruang kosong yang senantiasa membuat saya merasa tidak nyaman. Saya ingin kembali menebar manfaat tidak hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk orang disekitar saya.

Saya coba menekuni bisnis, tapi saya masih belum menemukan celahnya. Semoga suatu hari nanti meski impian saya menjadi dosen belum tercapai, penghasilan melebihi gaji seorang dosen.

Posted in Uncategorized

Hilang Arah

Malam ini saya mendengar berbagai pandangan dari seorang lelaki. Saya tahu bahwa apa yang dia katakan memang menyakitkan, namun saya juga sadar bahwa hal itu ada benarnya. Dari percakapan malam ini, saya menyadari bahwa diri saya telah hilang arah. Saya tidak menunjukkan diri saya sebagaimana yang saya tahu, namun lebih banyak menjadi diri yang terlihat lemah.

Dulu, saya mampu mengutarakan pandangan saya dengan bahasa yang santun. Sekarang, saya lebih banyak diam. Saya terlalu menurut dan malah jadi tertutup. Saya seperti seorang Nam Do San yang terpuruk dalam ketakutan dan ketidakberdayaan hanya karena menilai bahwa saya tidak layak dianggap baik karena saya pernah melakukan kesalahan.

Padahal, setiap orang pernah bersalah. Pernah melakukan kesalahan. Bukankah hal yang lumrah ketika kita bersalah karena kita adalah manusia? Yang tidak lumrah adalah ketika berbuat salah, lalu enggan mengakui kesalahan itu dan berhenti di situ. Tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik, mata jadi tertutup pada hal-hal positif di sekitar kita.

Begitulah gambaran diri saya saat ini.

Dari sini saya pun berpikir. Saya tidak semurah itu. Tidak serendah itu. Saya sadar, ada nilai-nilai positif di dalam diri saya yang bisa saya kembangkan bahkan bisa saya tularkan pada orang di sekitar saya.

Hari ini, saya menerima semua kekurangan diri saya. Pun, saya menerima segala rasa sakit yang pernah saya terima baik dari keluarga, sahabat, teman, bahkan pasangan saya saat ini.

Mulai hari ini saya akan berusaha sebaik mungkin agar mampu menunjukkan bahwa saya berharga.